Sabtu, 21 Desember 2013

KELADI TIKUS

KEAMPUHAN KELADI TIKUS

Tanaman anti kanker atau tumor

 

          Kedengarannya memang aneh akan namanya Keladi Tikus, yaah karena tanaman ini saat berbunga kelopaknya yang memanjang seperti tikus yang memiliki ekor memanjang. Ada penyakit tentulah Alloh s.w.t memberikan obatnya, hanya manusianya belum tahu kalau di jagad ini sudah tertanam obatnya. Konon penyakit kanker sangat ditakuti dan penyakit ini memang ganas tanpa pandang bulu penderitanya. Namun Kanker kini tidak  lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat memiliki  harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman “KELADI TIKUS”  (Typhonium Flagelliforme/ Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai penyakit berat lain. Tanaman sejenis talas dengan  tinggi maksimal 25 sampai 30 cm ini hanya tumbuh di semak yang tidak  terkena sinar matahari langsung. “Tanaman ini sangat banyak ditemukan  di Pulau Jawa,” kata Drs.Patoppoi Pasau, orang pertama yang menemukan  tanaman itu di Indonesia. Tanaman obat ini telah diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof  Dr Chris K.H.Teo,Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari  Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri Cancer Care Penang,  Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun 1995 itu  telah membantu ribuan pasien dari Malaysia , Amerika, Inggris,  Australia, Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.

 


 Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan, Jawa Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat melalui operasi, istri Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia untuk membunuh sel) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker tersebut. “Sebelum  menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami menyiapkan wig  (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan kerontokan rambut,  selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan,”jelas Patoppoi.

Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk  mengobati kanker. “Saat itu juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh  tersebut,” ujar Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di Malaysia , secara tidak sengaja  dia melihat dan membaca buku mengenai pengobatan kanker yang berjudul “Cancer, Yet They Live” karangan Dr Chris K.H. Teo terbitan 1996. “Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak jadi membeli teh Lin Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia ,” kenang Patoppoi  sambil tersenyum. Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium  flagelliforme itu.
Berdasarkan pengetahuannya di bidang  biologi, pensiunan pejabat Departemen Pertanian ini langsung  menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah menghubungi beberapa  koleganya di berbagai tempat, familinya di Pekalongan Jawa Tengah,  balas menghubunginya. Ternyata, mereka menemukan tanaman itu di sana.  Setelah mendapatkan tanaman tersebut dan mempelajarinya lagi, Patoppoi  menghubungi Dr. Teo di Malaysia untuk menanyakan kebenaran tanaman  yang ditemukannya itu.

Selang beberapa hari, Dr Teo  menghubungi Patoppoi dan menjelaskan bahwa tanaman tersebut memang  benar Rodent Tuber. “Dr Teo mengatakan agar tidak ragu lagi untuk  menggunakannya sebagai obat,” lanjut Patoppoi.  Akhirnya, dengan  tekad bulat dan do’a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai memproses  tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut. “Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai  mencari di pinggir sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan  tanaman tersebut tumbuh liar di pinggir sungai,” kata Boni yang  mendampingi ayahnya saat itu.
Selama mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek samping kemoterapi  yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya tidak rusak dan  mual-mual hilang. “Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali normal,”  lanjut Boni.
Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri  Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. “Hasil pemeriksaan negatif,  dan itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta ,” kata  Patoppoi. Para dokter itu kemudian  menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diberikan pada  isterinya. “Malah  mereka ragu, apakah mereka telah salah memberikan dosis kemoterapi  kepada kami,” lanjut Patoppoi. Setelah diterangkan mengenai  kisah tanaman Rodent Tuber, para dokter pun mendukung Pengobatan  tersebut dan menyarankan agar mengembangkannya. Apalagi melihat  keadaan isterinya yang tidak mengalami efek samping kemoterapi yang  sangat keras tersebut. Dan   pemeriksaan yang seharusnya tiga bulan sekali diundur menjadi enam bulan sekali.”Tetapi karena sesuatu hal, para dokter tersebut tidak mau mendukung secara terang-terangan  penggunaan tanaman sebagai pengobatan alternatif,” sambung Boni sambil tertawa. 

Setelah beberapa lama tidak berhubungan,  berdasarkan peningkatan keadaan isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di Indonesia. Kemudian Dr Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak tahu apa yang  harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh,” sambung Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam bahasa Indonesiadan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar kedua belah pihak  bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu penderita  kanker di Indonesia. Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas mengenai meninggalnya Wing Wir yanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan eksperimen pengobatan tersebut berhasil  menyembuhkan pasien tersebut. “Lalu saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos,” ujar Boni. Dan tanggapan yang  diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa sekitar 30  telepon yang masuk. “Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang yang  datang ke sini,” lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani, Buduran  Sidoarjo. Pasien pertama yang  berhasil adalah penderita Kanker Mulut Rahim stadium dini. Setelah  diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi. Tetapi karena belum  memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual untuk biaya  operasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. Setelah diberi  tanaman dan cara meminumnya, tidak lama kemudian pasien tersebut  datang lagi dan melaporkan bahwa dia tidak perlu dioperasi, karena hasil pemeriksaan mengatakan negatif.

Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha untuk menemui Dr. Teo  secara langsung. Atas bantuan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan  Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat menemui Dr. Teo di Penang, Malaysia. Di kantor Pusat Cancer Care Penang, Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan  lebih lanjut  mengenai riset tanaman yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia. Ternyata saat Patoppoi mendapat buku “Cancer, Yet They Live” edisi revisi tahun  1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta  pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara resmi, Patoppoi dan putranya diangkat sebagai perwakilan  lembaga sosial Cancer Care Indonesia, yang juga disebutkan dalam  buletin bulanan Cancer Care, yaitu di Jl. Kayu Putih 4 No. 5,  Jakarta ,  telp. 021-4894745, dan di Buduran, Sidoarjo. Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk  pengobatan tersebut secara lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk pil dan teh bubuk yang  dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya dengan dosis  tertentu. “Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang diderita,”kata Boni.
Sebenarnya pengobatan ini  juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Ada dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah  menjabat sebagai direktur salah satu rumah sakit terbesar di  Surabaya ini. Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi  pengobatan dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh  rekan-rekan dokter yang telah memiliki reputasi. Setelah menjalani  kemoterapi dan radiologi, pasien tersebut mengalami kerontokan rambut,  kulit rusak dan gatal, dan selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua  yang mengidap kanker ginjal, dokter ini  menanganinya sendiri dan juga  memberikan pil keladi tikus untuk membantu proses penyembuhan kemoterapi.

 Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karen menurutnya, pengobatan  ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya,  jika rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka akan memberikan predikat sebagai “ter-kun” atau dokter-dukun. “Disinilah gap yang terbuka antara pengobatan  konvensional dan modern,” kata dokter tersebut.

Banyak  hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan  kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu  di Surabaya , yang pada akhirnya pecandu  tersebut mendapat kanker paru-paru. Setelah mendapat vonis kanker  paru-paru stadium III, pasien tersebut mengkonsumsi pil dan teh  dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba tersebut. “Tapi, jika  pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi tikus, dia tidak  boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi,” sambung Boni sambil tertawa.
Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan  akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa  sakit sudah tidak mempan lagi. Setelah diberi minum sari keladi tikus,  beberapa saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa  kesakitan. Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit  yang telah disembuhkan adalah berbagai kanker dan penyakit berat  seperti kanker payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher  rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.

THERAPY ASY SYIFA NUR ILAAHI

        Ini merupakan buah pengalaman therapy penulis, dan kita memang tidak dianjurkan untuk promosi yang macam-macam untuk therapi khususnya, disini kami sampaikan karena do'a pada pengobatan adalah faktor penting, karena Tuhanlah yang menyembuhkan dan memberikan penyakit pada hambanya. Oleh sebab itu methode do'a harus kita motivasikan pada pasien untuk turut berdo'a juga. Karena Dzat yang memberi obat dan menyembuhkan adalah Alloh Tuhan semesta alam. Kita tiap hari sudah berkecimpung dengan pengobatan berbagai penyakit. Kami sudah terbiasa menangani pasien-pasien yang di dioagnose oleh dokter sebagai tumor atau kanker, dan kami menggunakan therapi alternatif dengan ramuan tradisional dan therapi khusus dengan kekuatan do'a. Perpaduan therapy do'a khusus dan ramuan / herbal sangat berarti dan terbukti ampuh, karena dengan ditunjang pancaran do'a khusus yang kita terapkan bersumber dari Asy syifa Nur Ilaahi, dengan sarana Syahadatain Kalimasada, Khodimul ghaib Surat Fatikah, dan ayat2 Al Qur'an lainnya,Wasialatul Udhma Nabiyulloh dan Auliya'ulloh, dan Sholawat.  Bi idznillaah, bibarokatilaah, bibarokati Rosulilaah, Bibarokati Waliyulloh dan Kharomahnya therapi ini untuk menangani penyakit bermacam-macam yang ada di masyarakat, al hamdulilaah Alloh mengijabahi. Selanjutnya kita juga memberikan therapi jarak jauh meski pasien sudah berada di rumah, dengan media fotho pasien yang terbaru, nama dan alamat lengkap pasien. Pasien tidak harus ikut secara langsung, bisa menyuruh keluarga atau orang lain untuk pengambilan persyaratanya untuk diminum dan di oleskan ke pasien, bisa juga kita kirim via post atau JNE termasuk juga pengiriman herbalnya.  Kita mengirim sinyal atau gelombang khusus do'a penyembuhan ke pasien dan biasanya kita mengkontak mentranfer kekuatan Ghaib Ilahiyah ke pasien pada malam hari atau pagi hari. Pada pasien dengan kanker kami biasa padukan pengobatan dengan menggunakan keladi tikus ini, seperti pada benjolan dileher kanan kiri, benjolan atau tumor di dada, tumor payudara, tumor di liver, tumor seperti lipom di pipi dllnya. Rata-rata dengan kesabaran dan ketlatenan pasien Insya Alloh sembuh.
Hal ini kami mencoba langsung dengan tanaman ini dengan membikin jus, pilih yang sudah berbunga, 3 batang lengkap seluruhya mulai dari daun, batang dan umbi dan akar yang masih segar,selanjutnya kita blender tambah sedikit air, lalu disaring, minum 3 x, taruh atau simpan di lemari es agar tidak cepat basi.  Gunakan hanscoon atau sarung tangan saat mencuci agar tidak gatal, karena setiap orang tidak sama daya tahan tubuhnya mungkin bisa sedikit seperti alergi atau gatal, dan setelah dibasuh air akan hilang sendirinya. Bila sedikit agak gatal terkena tangan saat membersihkan atau saat meminumnya, kita gunakan air gula pasir sebagai penawarnya, yakni ambil 1-3 sendok campur 1/2 - 1 gelas air putih aduk sampai larut gulanya, Gunakan untuk membasuh tangan dan atau diminum sedikit-sedikit sampai habis.
Disamping itu juga dengan menggunakan herhal keladi tikus, yakni keladi tikus yang diambil sari pati yang di ekstrak diambil dari umbinya, yang jelas ini meringankan kita atau pasien karena sudah dalam bentuk kemasan yang praktis siap diminum.


MANFAAT KELADI TIKUS

Menurut data Cancer Care Malaysia,berbagai penyakit telah disembuhkan antara lain:
1. Berbagai kanker seperti payudara, paru-paru,usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal,leher rahim, tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukimia, empedu, pankreas dan hepatitis (Media Indonesia)
2. Penyakit-penyakit berat lainnya seperti: Diabetes Melitus, demam berdarah, radang otak, radang tenggorokan,ambeien akut, sakit gigi, keputihan, kista, sinus (gangguan hidung), hernia, biduran dan semua penyakit yang disebabkan virus dan bakteri.
3. Mengurangi secara luar biasa efek samping kemoterapi (seperti: rambut rontok, kulit kusam, mual-mual)
4. Menghentikan perdarahan baik diluar maupun didalam tubuh
5. Untuk anak-anak bisa mengobati berbagai radang dan sakit gigi.
6. Dapat mendeteksi terdapatnya sel-sel ganas (kanker) dalam tubuh pada stadium awal (gejala-gejala). 

  •  PANTANGAN
1. Yang perlu diperhatikan oleh pasien kanker dalam menjalankan pengobatan dengan Keladi Tikus yaitu tidak mengkonsumsi: “Rokok, Alkohol, Tape, Nanas, Nangka, Durian, Makanan pedas, Bakso, gorengan, Minuman bersoda, Es, Kecambah, Sawi Hijau, dan makananm yang mengandung Vetsin / MSG” karena hal tersebut dapat menetralisir efek dari obat Keladi Tikus
2. Wanita hamil tidak boleh mengkonsumsi Keladi Tikus.
3. Pada orang yang sensitif, Keladi Tikus dapat menimbulkan rasa mual, bila itu terjadi penambahan gula atau madu bisa menetralisir rasa tersebut, hanya perlu diperhatikan bagi penderita Diabetes.
  • INDIKASI

KANKER: PAYUDARA, PARU-2, USUS BESAR, RECTUM, LIVER,
PROSTAT, GINJAL, LEHER RAHIM, TENGGOROKAN, TULANG,
OTAK, LIMPA, LEUKEMIA, EMPEDU DAN PANKREAS.
KORENG : Umbi secukupnya di tumbuk halus, tempelkan ke tempat sakit.

FRAMBUSIA : Umbi secukupnya di tumbuk halus, tempelkan tempat sakit,
MENETRALISIR RACUN NARKOBA : Umbi sebesar ujung cuci bersih dengan air matang, dikeprek dan di telan. Lakukan
beberapa kali sehari. (Cara penggunaan ini berdasarkan informasi
lisan dari seorang pemakai)

Tanaman lengkap 3 batang (50 gr.) di rendam setengah jam, cuci, ditumbuk halus, peras dengan kain, tambahkan 1/2 sendok
madu, campur, minum. Lakukan 3 kali sehari. Air perasan harus
segera diminum, tidak boleh disimpan.
  • PERINGATAN
1. WANITA HAMIL DILARANG MINUM TANAMAN OBAT INI.
2. TANAMAN DIHALUSKAN DENGAN CARA DITUMBUK TIDAK BOLEH DIBLENDER.
3. BILAMANA TANGAN GATAL TERKENA BUBUK INI, CUCILAH DENGAN AIR GULA.
4. HINDARKAN MATA DARI TUMBUKAN BAHAN INI.
5. AIR SARI KELADI TIKUS, HARUS DIMINUM SEGERA, TIDAK BOLEH DISIMPAN.
6. TANAMAN KELADI TIKUS MUDAH BUSUK BILA BASAH, JADI HARUS DISIMPAN DIKULKAS, DENGAN CARA, TANAMAN DIBUNGKUS DENGAN KERTAS DULU, DIMASUKKAN KEDALAM PLASTIK, SIMPAN DI KULKAS.
7. MINUM RAMUAN KELADI TIKUS SAAT PERUT KOSONG,
SEKURANG-KURANGNYA SEJAM SEBELUMNYA.
8. PASIEN YANG BARU OPERASI, TUNGGU 2 MINGGU BARU BOLEH MINUM RAMUAN INI.
9. PENGARUH MINUM RAMUAN INI, 2 HARI PERTAMA MUAL, SEDIKIT DIARE, TINJA BERWARNA HITAM DAN BADAN LESU.
10. KADANG PASIEN MUAL DAN MUNTAH SETELAH LAMA MINUM RAMUAN INI, HENTIKAN PEMAKAIAN SAMPAI GEJALA HILANG BARU MINUM LAGI ATAU DOSIS DIKURANGI.

  • HERBAL / EKSTRAK KELADI TIKUS

PENCEGAHAN DINI KANKER DAN TUMOR DENGAN CAPSUL KELADI TIKUS dan SERBUK KELADI TIKUS
Terbukti Sangat Ampuh Untuk pencegahan dini dan pada stadium awal baik Tumor atau Kanker Payudara. Kanker Payudara apabila tidak dilakukan pencegahan secara dini akan mengakibatkan tumbuh dan berkembangnya sel-sel kanker menjadi tumor ganas/kanker ganas. Juga sangat ampuh untuk kanker-tumor 
PARU-2, USUS BESAR, RECTUM, LIVER,
PROSTAT, GINJAL, LEHER RAHIM, TENGGOROKAN, TULANG,
OTAK, LIMPA, LEUKEMIA, EMPEDU DAN PANKREAS.
KORENG.
 
                HUBUNGI Asy syifa Herba Bojonegoro Jatim 62195, 
                SMS ONLY 082233383301, 085731974777
 
 
 
Post  Widyaesmara dan sumber lain: Berkah herbal dan resep web

1 komentar:

Silahkan bergabung dan memberi komentar